Hotline Layanan
Li Hualan dari KinghelmKabupaten Rong, Guangxi
penulis Profil
Nama: Li Hualan
Posisi: Perwakilan Penjualan, Departemen Penjualan I, Kinghelm Elektronik
Kampung halaman: Kabupaten Rong, Guangxi
Visi yang Dicita-citakan: Tetap setia pada hasrat, jangan takut akan masa depan, dan jadilah versi diri yang lebih baik sepanjang perjalanan.
Li Hualan, Perwakilan Penjualan, Departemen Penjualan I, Kinghelm Elektronik
Aroma Pomelo di Sekitar Paviliun Kuno — Legenda Seribu Tahun tentang Buah Persembahan Kekaisaran
Buah Jeruk Bali Shatian, Upeti Kekaisaran, dari Kabupaten Rong, Yulin, Guangxi
Musim gugur di Kabupaten Rong terbangun dengan aroma manis pomelo Shatian. Di kebun-kebun Kota Ziliang, buah-buahan berwarna keemasan menggantung lebat di dahan-dahannya, kulitnya ditandai dengan bintik-bintik cokelat alami—ciri khas pohon-pohon tua. Setelah dikupas, daging buahnya yang jernih seperti kristal tersusun seperti giok putih. Satu gigitan melepaskan rasa manis yang menyegarkan, berair dan bertahan lama di langit-langit mulut.
Jeruk bali Shatian—yang dikenal sebagai salah satu “buah terbaik Tiongkok”—membawa kisah yang membentang selama berabad-abad.
Konon, pada masa pemerintahan Kaisar Qianlong di Dinasti Qing, seorang cendekiawan bernama Xia Jigang dari Desa Shatian kembali ke kampung halamannya dan mengabdikan dirinya untuk membudidayakan varietas pomelo yang disebut "Yang'e Seed." Pada tahun ke-45 pemerintahan Qianlong, selama kunjungan kaisar ke selatan, Xia mempersembahkan buah yang telah ia tanam sendiri. Dengan gembira, kaisar memberinya nama "Pomelo Shatian" dan menetapkannya sebagai upeti kekaisaran. Sejak saat itu, pomelo tersebut dikirim setiap tahun ke ibu kota dengan upacara yang megah.
Kisah ini tercatat dalam Sejarah Kabupaten Rong dan silsilah keluarga Xia, yang mengangkat buah ini dari spesialisasi regional menjadi hidangan kerajaan. Saat ini, pomelo Shatian dari Kabupaten Rong merupakan produk indikasi geografis nasional. Di kebun-kebun tersebut, kisah sederhana Xia Jigang—"tidak mencari kekayaan atau pangkat, tetapi hanya menginginkan aroma pomelo setiap tahun"—masih diwariskan dari generasi ke generasi.
Selama musim panen dari bulan Oktober hingga Desember, pengunjung berjalan-jalan di kebun dengan keranjang bambu, memetik buah-buahan matang dengan tangan dan berbagi kemanisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cita Rasa Api dan Budaya — Perjalanan Sastra dan Kuliner di Lidah
Jika pomelo Shatian mewakili rasa manis Kabupaten Rong, maka masakan Hakka di atas meja mencerminkan identitas kuliner terdalamnya. Hidangan lokal cenderung memiliki cita rasa gurih dan menekankan seni "mengisi". Di antara hidangan tersebut, tahu isi adalah jiwa dari masakan ini.
Di restoran lokal, tahu segar dilubangi dan diisi dengan daging babi cincang halus, jamur hitam, dan udang kering. Tahu digoreng hingga berwarna keemasan di kedua sisinya, kemudian direbus perlahan agar kaldu yang kaya meresap ke dalam tahu. Satu gigitan akan mengungkapkan daging yang lembut dan rasa gurih yang kaya. Meskipun tekniknya sederhana, hidangan ini mewujudkan kearifan masyarakat Hakka dalam menggunakan bahan-bahan lokal selama migrasi dan membawa kehangatan kehidupan di lingkungan sekitar—"satu keluarga memasak, aromanya menyebar ke semua."
Hidangan istimewa lainnya dalam jamuan makan di Kabupaten Rong—Babi Rebus Xiushan—memiliki keanggunan sastra dan pesona mistis. Asal usulnya dapat ditelusuri kembali ke penyair Dinasti Song Utara, Su Shi. Ketika diasingkan ke Huizhou, ia menciptakan babi rebus sayuran awetan yang terkenal. Kemudian, saat mengunjungi Kabupaten Rong dan mendaki Gunung Duqiao untuk bertemu dengan teman Taoisnya, Shao Yanfu, Su Shi menyempurnakan hidangan tersebut lebih lanjut selama diskusi mereka, menyempurnakan harmoni antara sayuran awetan yang gurih dan perut babi yang empuk.
Gunung Duqiao, yang dikenal sebagai salah satu dari 36 gua suci Taois, menyimpan legenda tentang para dewa yang mempersembahkan sayuran yang diawetkan selama masa kelaparan. Dipadukan dengan pengaruh sastra Su Shi, hidangan ini memperoleh aura unik "inspirasi surgawi." Saat ini, setelah mengunjungi Gunung Duqiao, pengunjung dapat menikmati sepotong daging babi rebus yang kaya rasa namun tidak berminyak ini di restoran rumahan setempat, sambil memandang bentang alam Danxia dan mengenang kekaguman puitis Su Shi.
Kuliner Kabupaten Rong juga mencerminkan ritme musim. Di musim semi, rebung pahit diisi dengan daging, menawarkan keseimbangan antara rasa pahit dan manis. Di musim panas, jeli herbal dengan madu dan mint menyegarkan dan menyejukkan tubuh. Di musim gugur, babi rebus dengan kulit pomelo dan pomelo isi menggabungkan aroma buah ke dalam hidangan gurih. Di musim dingin, sup daging anjing dengan saus tahu fermentasi menghangatkan tubuh dan jiwa.
Di pasar pagi Xiujian, berlimpah makanan lezat—kue beras kukus yang ditaburi wijen dan kacang tanah, bakpao singkong berisi kelapa parut, dan sup ayam jamur merah dengan kuah merah pekat. Di malam hari, pasar kota tua Rongzhou menjadi hidup: hidangan penutup kulit jeruk bali yang manis menyegarkan langit-langit mulut, sementara jambu biji dengan garam cabai menawarkan cita rasa jalanan yang nostalgia dan disukai penduduk setempat.
Bagi Suku Hakka, Segala Sesuatu Bisa "Diisi"
Lanskap dan Waktu — Kembang Api Kehidupan dan Puisi di Kota Kuno
Cita rasa Kabupaten Rong tak terpisahkan dari lingkungan alamnya. Sungai Xiujian mengalir melalui kota, Gunung Duqiao menjulang dengan formasi Danxia yang menakjubkan, dan Paviliun Zhenwu—yang berdiri selama lebih dari 450 tahun tanpa satu pun paku—menunjukkan kecerdasan arsitektur yang mirip dengan keahlian yang terlihat dalam kulinernya.
Kota kuno ini, yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Prefektur Rongzhou, masih melestarikan jalanan bergaya Dinasti Tang dan Song. Saat lentera dinyalakan di senja hari, pantulannya berkilauan di jalan setapak batu dan air sungai. Para tetua duduk di pinggir jalan, menceritakan kisah tentang buah pomelo persembahan Xia Jigang dan pembangunan paviliun yang legendaris.
Sebagai kampung halaman yang terkenal bagi warga Tionghoa perantauan, cita rasa Kabupaten Rong telah mendunia. Babi rebus Xiushan telah mencapai meja makan global melalui jaringan diaspora, sementara teh pomelo dan ayam asap kemasan vakum membawa cita rasa kampung halaman bagi mereka yang berada jauh. Sementara itu, mereka yang tetap tinggal terus melestarikan tradisi—petani merawat pohon pomelo berusia seabad, koki mewarisi resep leluhur, dan pedagang menjajakan camilan musiman di pasar pagi.
Di sini, gaya hidup santai bukan hanya sebuah konsep—melainkan semangkuk lumpia beras yang diresapi kaldu sapi yang dimasak selama 12 jam, percakapan tenang di kebun pomelo, dan aroma makanan yang tercium di jalan-jalan kuno pada malam hari.
Sudut Paviliun Zhenwu di Kabupaten Rong
Berjalan menyusuri jalanan Kabupaten Rong, setiap langkah terasa seperti memasuki sebuah cerita, dan setiap gigitan membawa cita rasa waktu. Manisnya pomelo Shatian adalah anugerah alam sekaligus bukti keahlian. Kelezatan tahu isi mencerminkan kehangatan dan warisan budaya. Kekayaan rasa babi rebus Xiushan mewujudkan keanggunan sastra dan pesona spiritual.
Tersembunyi jauh di Lingnan, kota kuno ini menghubungkan sejarah dengan masa kini melalui makanan dan cerita, menghangatkan lidah dan jiwa. Ketika aroma pomelo kembali memenuhi udara, perlambat langkah Anda, jelajahi pemandangan dan kehidupan sehari-hari, dan temukan cita rasa Kabupaten Rong yang berusia ribuan tahun.
Kinghelm dan Skkor — Sebuah Tim yang Kuat dan Berkembang




